Esok harinya...
"Ni, soal smsnya Duta itu. Kemarin itu,"
"Iya tau. Udah putus kok aku." jawab Agnia pendek.
"Lhoh? Kok gitu? Duta mutusin kamu?"
"Enggak, aku malah." Agnia mempersingkat jawabannya.
"Kok bisa? Bukannya kamu yang pingin.."
"Aku yang pingin, aku yang pingin.. Iya aku yang pingin! Tapi pas kamu nyuruh Duta buat jadian sama aku kamu bahkan nggak tau kan apa yang kamu sendiri pinginin dan apa yang Duta pinginin,"
"Lhoh.."
"Nggak usah lhah lhoh lhah lhoh deh, Bay. Duta juga udah cerita soal semuanya. Mulai dari kamu minta ngomong empat mata sama dia, semuanya pokoknya." Jawab Agnia lagi.
"Tapi kan itu,"
"Biar aku dapet apa yang aku pingin kan? Waktu itu kamu ngomong sendiri. Nggak selamanya kita dapet apa yang kita pingin-pinginin sekalipun itu sweet desire ato apalah itu!" sahut Agnia.
"Iya kan? Aku pinginnya kamu seneng gitu, Ni." ujar Bayu.
"Iya. Aku seneng. Kamu pingin aku seneng dan akhirnya cuman bisa nyakitin aja kan? Karena ternyata Duta juga nggak pingin njadiin aku pacarnya?" lanjut Agnia.
"Aku juga nggak tau. Waktu itu emang Duta bilang dia suka kamu, Ni. Terus ngomong kalo mungkin bisa jatuh cinta sama kamu. Ya aku percaya dia. Aku pegang omongannya," jelas Bayu.
"Tapi Bay, kalo semuanya nggak sesuai harapan kan kacau." Agnia mulai berkaca-kaca.
Selama Bayu mengenal Agnia, bahkan ia belum pernah melihat sahabatnya itu berkaca-kaca.
"Duta juga cerita, kalau ada cowo lain yang mengharapkan aku," lanjut Agnia.
Bayu semakin terdiam.
"Kamu kan, Bay?"
Bayu dan Agnia hanya berpandangan sebentar. Agnia kemudian dari bangku duduknya.
No comments:
Post a Comment