Thursday, December 13, 2012

Getting down cause something

Kita selalu mengkhayalkan hidup yg sempurna kan? Menurut selera kita sih tentunya. Hai kembali blogger! Bisa dihitung bulan saya tak memposting sesuatu? Selamat membaca kembali.
Tes akhir semester ganjil di sekolah saya telah usai. Tentu saja banyak free time dalam keseharian saya. Postingan kali ini akan saya fokuskan pada keluarga besar saya yang sangat menyenangkan
Inilah XI IPS 3 atau yang kami sebut dengan Stigma. Sudah saya bahas bagaimana saya kembali menjalin kasih dengan kelas baru. Rupanya semakin bulan saya merasakan perubahan signifikan dalam bidang akademik saya bersama dengan keluarga baru saya ini. Saya sendiri yang sedari dulu tak pernah mencoba memacu kemampuan akademis saya, kini, semakin terdorong. Disisi lain keluarga baru saya ini begitu menyenangkan.
100% dapat di ajak bekerja sama, jadinya tak akan ada pertimbangan kembali untuk saling membantu mulai hal yang sangat kecil. Kami tak pernah membedakan antara yang pintar dan yang biasa saja. Karena kami sama-sama belajar disini (walaupun ada satu dua siswi yang pintar dan kurang bisa mentutori, namun its OK).
Keluarga ini memiliki beberapa pejabat, seperti ketua OSIS dan ketua I nya. Bicara soal ketua satunya, iya, dia perempuan. Bornia Novita Sari Sabowo namanya, bersama kami sejak berawalnya XI IPS 3. Sayang seribu dan beribu-ribu sayang, ia harus segera pindah sekolah mulai semester depan karena suatu hal. Kalau boleh jujur, saya sendiri juga menyayangkan hal ini. Tak akan menjadi sebuah keluarga lagi meskipun berkurang satu orang, bukan? 
Dia orang yang begitu solid. She could be a different person in a different times. At one time she could be an idiot. Beside the time she could be a fragile. At another times she turn into a brave. And for the other times she could be a leader which very emphatic.
We're proud of each other. We're proud for ever have her, here, now, anytimes! Memang sih, pertama kali saya mendengar dia berkata hendak pindah, setengah alis tidak ada yang mempercayainya. Mungkin ini hanya jokes belaka.Tapi ternyata dia memang jujur. Sedih ya?
Kami sangat sedih lo. Kelas bukan lagi kelas dengan hanya 30 siswa dan akan menjadi satu bangku kosong (lagi). XI IPS 3 bukan menjadi kelas XI IPS 3 lagi tanpa kehadiran salah satu anggota, meskipun setiap hari ada saja yang tidak masuk.
Tapi ayolah, kita schoolmates, kita classmates dan selamanya akan tetap begitu, iya kan?

We had the best years of our livesBut you and Us would never be the sameDecember took me by surpriseAnd I was left to watch the seasons change
It´s been so quiet since you´ve goneAnd everyday feels more like a year
So many things we should´veSaid when we had the chanceSo many times we took it all for granted
I´d never thought this could ever endI´d never thought I´d lose my bestfriendEverything is different nowCan we stop the world from turning

EVAN TAUBENFELD - THE BEST YEARS OF OUR LIVES LYRICS 


Meskipun arti kehilangan yang kali ini berbeda dengan kehilangan 4 sahabat saya secara tragis dalam sebuah insiden, tapi cukup membuat hati saya miris kok.
Setidaknya kami masih berharap kalau-kalau dia batal pindah.
 Sekian dulu ya... Thanks for read mine!
See you next times!!

Wednesday, October 31, 2012

HALOOO

Assalamu'alaikum. wr. wb
Halooooo.. How are you guys? Haha, feels like a year since I have no time to write here. Oke,
Sebenernya tidak sedikit yang terjadi dalam hari-hari saya semenjak posting terakhir saya. Sesungguhnya ada begitu banyak hal yang ingin saya tuangkan. Namun saya yakin tidak saya tidak juga dapat menuangkan semuanya. Ya baiklah, mulai saja dari simply things. Sekolah?
Banyak yang terjadi. HUT SMADA? Sudahkah saya bercerita sedikit atau banyaknya? Sekolah saya, SMA Negeri 2 Magelang berulangtahun ke 33. Tua. Tidak setua sekolah yang lebih seniorlah tentunya. Sudahkah saya tuangkan pembawaan lagu saya dalam pentas seni? Ya, ini lagu daerah.
Semua terasa lucu, semua terasa cepat. Saya mengenal orang-orang didekat saya. Ya, menambah orang-orang dekat saja sih.
Saya mulai jatuh cinta. Kepada kelas baru saya di kelas XI. Mulai dari rekan sekelas saya yang terpilih menjadi ketua OSIS, keunikan beberapa sahabat baru yang berada di sekitar saya. Dan kawan-kawan unpredictable yang akhirnya menjadi teman dekat saya. Terimakasih Allah. Atas masuknya saya ke dalam kelas yang super kondusif dan tampak amat sangat dapat saya handalkan.
Terimakasih Allah. Untuk nafas yang tak pernah tersendat berhembus dari hidung ini. Terimakasih Allah SWT, Engkau tak salah memberikan saya teman-teman yang semakin menguatkan bambu di kaki saya. Sehingga saya dapat berdiri dengan tegapnya. Sesungguhnya segala yang ada di dunia ini hanyalah pelengkap.
Saya tidak mendapati pertumbuhan signifikan dalam bidang akademik. Namun saya yakin, hasil hitam di atas putih bukanlah kunci dari segalanya. Kunci segalanya adalah bagaimana kita nanti apabila kita terjun langsung ke dalam masyarakat. Begitu guru motivator di sekolah saya mengatakan. Saya yakini beliau benar, meskipun kita sesama manusia yang tidak mungkin sempurna.
Keputusan menyangkut perasaan pribadi saya yang sama sekali tak ingin saya ungkapkan dan kini saya insert di posting ini juga saya rubah. Saya hanya tidak ingin menyesal dibalik keegoisan akan bebasnya hidup seperti menjomblo disaat saya sudah mendapatkan sesosok pacar yang bahkan seratus kali lipat pengertian.
Saya tau, sebuah penyesalan hanya akan membusuk pada sebuah akhir dari keputusan yang mementingkan satu sifat buruk dalam diri kita.

sekian dulu, reader. Terimakasih atas donor membacanya. Semoga bermanfaat dan memotivasi ya.
Wassalamu'alaikum wr. wb

Sunday, October 14, 2012

Sweet Desire VI (Ending)

Malam ini malam bagi Agnia untuk berfikir dingin. Berfikir dingin sebelum Duta pindah sekolah esok hari, dan berfikir dingin untuk memaafkan sahabatnya Bayu.
Seperti memutar rekaman lalu, Agnia memutar yang ingin ia ingat lagi.
Bayu berkata,"Nggak selalu kita dapat apa yang kita pinginin. Dalam hidup ini ada sweet desire, tapi nggak semua sweet desire itu jadi nyata. Ada saatnya kita harus merelakan keinginan kita demi kepentingan lain. Bukannya kebahagiaan itu ketika kita liat orang yang kita cintai juga bahagia?"
Agnia mengerti sekarang. Gadis yang di maksut Bayu itu adalah dirinya. Kebahagiaan yang dimaksut Bayu itu melihat dirinya dengan Duta bersama. Hanya saja, Duta tidak benar-benar mengasihinya. Agnia juga menyadari, semua yang dilakukan Bayu adalah karena Bayu mencintainya dan menyayanginya.
Jadi, selama ini Agnia membuang seorang yang benar-benar mengasihinya? Agnia membuang rasa bersalahnya lagi. Lalu kenapa Duta menembaknya waktu itu? Untuk apa? Hanya untuk mementingkan kata-kata Bayu yang meminta Duta untuk menjadi Pacar Agnia?
Rasanya semua irrasional. Agnia mencoba berfikir dingin untuk menghadapi apa yang ada di depan matanya saat ini.
Bayu benar. Bayu pernah berkata seperti waktu itu. Maka aku juga. Pikir Agnia.
My sweet desire memang mendapatkan Duta. Keinginan ku memang jadi pacarnya Duta, namun tidak semua sweet desire bisa menjadi nyata dan berakhir baik. Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi semuanya adalah sampah ketika itu membuat Duta tertekan, menyakiti hati Bayu bahkan membuat aku sampai seperti ini. Pikir Agnia lagi.
Kebahagiaan itu, bisa juga ketika melihat orang yang kita sayangi bahagia meskipun artinya tidak bersama kita, kan? Pikirnya lagi dengan menitihkan air mata.


Pagi benar. Agnia seperti tak ingin melewatkan kepindahan Duta. Agnia mencoba mengembangkan senyum yang ada di bibirnya.
Agnia merangkul bahu Bayu. Bayu terkejut.
"Hai, Yu!" sapa Agnia ceria.
"Ni?"
Senyumnya benar-benar lebar seperti tak ada yang terjadi.
"Nggak usah pindah kali. Dasar lebay! Masa gara-gara aku doang pindah?" celetuk Agnia dari belakang Duta.
"Ni??"
"Ayolaaah..." Agnia kemudian merangkul dua laki-laki itu.
"Aku tau. Anggap aja nggak ada yang terjadi di antara kita. Duta nggak perlu pindah, tapi nggak perlu jadi pacarku juga. Bayu juga masih jadi bestfriend ku," Lanjutnya.
Bayu dan Duta heran saling berpandangan.
"Dalam hidup ini, kita selalu punya keinginan. Tapi nggak semua keinginan kita itu selalu terpenuhi. Iya kan, Bay? Lagian kita masih bisa jadi 3 idiots kan? Iya kan?" Ujar Agnia lagi.
Bayu dan Duta kembali berpandangan dan mulai mengembangkan senyum.
"Malah liat-liatan! Ah! Hitung sampe tiga, terakhir sampe kantin bayarin sampe kenyang," Agnia berlari sekencang mungkin.
Diiringi tawa jahilnya diikuti kedua sahabatnya Bayu dan Duta..


THE END

Sweet Desire V

Esok harinya...

"Ni, soal smsnya Duta itu. Kemarin itu,"
"Iya tau. Udah putus kok aku." jawab Agnia pendek.
"Lhoh? Kok gitu? Duta mutusin kamu?"
"Enggak, aku malah." Agnia mempersingkat jawabannya.
"Kok bisa? Bukannya kamu yang pingin.."
"Aku yang pingin, aku yang pingin.. Iya aku yang pingin! Tapi pas kamu nyuruh Duta buat jadian sama aku kamu bahkan nggak tau kan apa yang kamu sendiri pinginin dan apa yang Duta pinginin,"
"Lhoh.."
"Nggak usah lhah lhoh lhah lhoh deh, Bay. Duta juga udah cerita soal semuanya. Mulai dari kamu minta ngomong empat mata sama dia, semuanya pokoknya." Jawab Agnia lagi.
"Tapi kan itu,"
"Biar aku dapet apa yang aku pingin kan? Waktu itu kamu ngomong sendiri. Nggak selamanya kita dapet apa yang kita pingin-pinginin sekalipun itu sweet desire ato apalah itu!" sahut Agnia.
"Iya kan? Aku pinginnya kamu seneng gitu, Ni." ujar Bayu.
"Iya. Aku seneng. Kamu pingin aku seneng dan akhirnya cuman bisa nyakitin aja kan? Karena ternyata Duta juga nggak pingin njadiin aku pacarnya?" lanjut Agnia.
"Aku juga nggak tau. Waktu itu emang Duta bilang dia suka kamu, Ni. Terus ngomong kalo mungkin bisa jatuh cinta sama kamu. Ya aku percaya dia. Aku pegang omongannya," jelas Bayu.
"Tapi Bay, kalo semuanya nggak sesuai harapan kan kacau." Agnia mulai berkaca-kaca.
Selama Bayu mengenal Agnia, bahkan ia belum pernah melihat sahabatnya itu berkaca-kaca.
"Duta juga cerita, kalau ada cowo lain yang mengharapkan aku," lanjut Agnia.
Bayu semakin terdiam.
"Kamu kan, Bay?"
Bayu dan Agnia hanya berpandangan sebentar. Agnia kemudian dari bangku duduknya.

Saturday, October 13, 2012

Sweet Desire IV

Hari berlanjut, semua tampak biasa pada sisi Agnia. Tidak dengan Duta, ataupun Bayu. Duta mulai merasa dirinya tak lagi pantas berada di samping Agnia, karena Agnia terlalu menyayanginya. Duta memang jatuh hati dengan Agnia, namun itu bukan modal yang cukup untuk membuat Duta merasa pantas menjadi kekasih Agnia. Karena jatuh hati bukan berarti jatuh cinta, jatuh hati adalah karena ketika kita mengagumi seseorang entah dari sifat, perilaku, tutur katanya, dan gayanya.
Sedangkan Duta sekedar jatuh hati pada Agnia yang baik, ramah, dan patut di kagumi. Tapi Duta sama sekali tak pernah jatuh cinta pada Agnia.
Bayu setiap kali harus tertekan melihat sahabatnya Agnia, dan Duta yang bahkan tidak mencintai Agnia sepenuhnya selalu berduaan.
Agnia bahagia di pihaknya, mendapatkan apa yang ia inginkan, dan tetap memiliki sahabat sebaik Bayu.

Selasa. Agnia berada di rumah Bayu. Namun kali ini tak ditemani oleh Duta kekasihnya.
"Yu,"
"Hem?"
"Nggak kepikiran nyari cewe kamu? Mau jomblo terus?" tanya Agnia kemudian.
Bayu yang sedang menggambar sketsa pun berhenti dan memandang Agnia sejenak.
"Aku nggak jomblo."
"Terus apa? Single? Hahah. Cari cewe kek,"
"Udah ada," jawab Bayu.
"Siapa? Aku kenal nggak?" tanya Agnia penasaran.
"Tergantung," jawaban ini membuat Agnia semakin penasaran.
"Tergantung gimana kamu memahami dirimu sendiri, Ni." lanjut Bayu.
"Ha? Maksutnya?"
"Heheh enggak. Ada sih satu cewek. Sayangnya, dia suka sama cowo lain," ujar Bayu.
"Cuman suka? Kamu nggak berusaha buat dia ya? Nyerah???" celetuk Agnia.
"Kamu nggak ngerti sih. Beda, antara keharusan untuk berusaha sama merelakan," jawab Bayu lagi.
"Ah nggak ngerti maksutmu apa," sahut Agnia.
"Gini ya, Ni. Dalam hidup ini tu kita nggak selalu bisa mendapatkan apa yang kita pingin, ada saatnya keinginan kita terpenuhi. Ada saatnya juga ketika kita harus ngerelain keinginan kita untuk kepentingan lain. Sweet desire itu selalu ada dalam hidup orang masing-masing, tapi nggak semua sweet desire itu jadi nyata. Lagian, aku emang cinta sama dia, tapi kalo dia seneng aku pun juga." jawab Bayu panjang.
Agnia hanya menganggukkan kepala beberapa kali.
"Sini pinjem BB mu," ujar Agnia kemudian.
Sebuah pesan masuk. Dari Duta? Agnia membukanya karena tidak mungkin Bayu menutup-nutupi smsnya dengan Duta.

"Bay, kayanya aku lebih baik mundur. Maaf kalo aku ngecewain kamu ato Agnia nantinya. Tapi aku nggak pantes jadi cowonya Agnia, aku emang suka sama Agnia. Tapi nggak kalo jadi pacar. Jadi, kaya katamu waktu itu, aku mau pergi aja dari Agnia."

Agnia terkejut, hidupnya, semua keinginannya yang sempurna ada di depan mata seperti cat tembok yang luntur tersiram air.

"Ada sms nih, Bay. Aku pulang dulu ya,"
"Lhoh? Kok sebentar  banget tumben? Nggak dijemput Duta?" Jawab Bayu.
"Aku nggak yakin dia mau jemput. Udah ah, pulang dulu ya. Balesin dulu tuh smsnya," Agnia setengah berkaca-kaca dan menyambar tasnya kemudian pergi.
Bayu bingung kemudian melihat sms yang masuk tadi. Dibacanya dan Bayu sangat terkejut. Seiring akan dikejarnya Agnia namun Agnia sudah lenyap dari rumahnya.

bersambung

Sweet Desire III

Bayu hanya menduga. Ya. Mereka pasti jadian. Tapi itu hanya dugaan. Dugaan yang sangat Bayu yakini.
Akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik dan pulang. Bayu mencoba, mencoba untuk tidak memikirkan apa yang tadi ia lihat. Bayu berusaha menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Bayu hanya memejamkan mata untuk menghilangkan apa yang ia pikirkan dan...

Malam yang tidak begitu baik. Agnia harus terburu-buru dan menunggu kekasihnya Duta untuk menjemputnya. Agnia hanya ingin berkata semuanya akan baik-baik saja sama seperti kata Duta ketika Duta datang menjemput Agnia. Ya. Bayu mengalami sebuah insiden tepat sore tadi disaat Bayu mencoba menghilangkan apa yang Bayu lihat. Motornya lepas dari kendalinya saat Bayu berusaha menghindari sebuah becak didepannya dan menghantam mobil dari arah berlawanan.
Keadaan Bayu tidak baik, bahkan tidak sadar. Kehendak lain Tuhan yang masih memberinya hidup kedua dan selamat walaupun mengalami luka yang tidak main-main. Cukup mengejutkan Duta dan Agnia karena jelas Bayu mengalami kecelakaan di depan kompleks Agnia.
Agnia pulang dengan perasaan tidak baik. Sahabatnya Bayu belum sadar. Agnia hanya berulang-ulang mengingat perkataan Duta.
"Bayu kan kuat,"

Senyum mulai mengembang di bibir Agnia meskipun semalam ia memendam perasaan tertekan. Bayu sadar, sudah membaik dan bahkan pulih meski belum diperbolehkan pulang kerumah dan masih rawat inap di rumah sakit. Setidaknya itu sudah cukup mengembalikan mood Agnia sedikit demi sedikit.
Pulang sekolah ini, Agnia dan Duta akan menjenguk Bayu. Agnia berfikir kedatangannya akan memulihkan semangat sembuh Bayu.

"Belum sempat ngucapin ke kalian lho aku. Selamat ya, udah jadian kan. Ikut seneng, Agnia dapet apa yang di pingin-pinginin." Ujar Bayu dengan senyum hangatnya.
"Lah, gausah kamu pikirinlah. Sembuh aja belum becus kamu," celetuk Agnia.
"Ya enggak. Kan ikut seneng kalo sahabatku juga seneng," sahut Bayu.
Duta lebih banyak diam menelan perkataan Bayu. Duta hanya berfikir, disaat seperti ini Bayu juga bisa munafik.
Bayu rupanya membaik, jauh lebih baik dalam keadaan fisiknya meskipun jauh berbeda dengan apa yang hatinya rasakan.


bersambung...

Sweet Desire Part II

Siang itu, sepulang sekolah. Tak banyak yang berada di sebelah gedung basket sekolah Bayu. Tempat dimana murid-murid lelaki merokok. Dari jauh terlihat hanya ada seorang Duta duduk disebuah bangku dengan sebatang rokoknya. Ya. Bayu memang memintanya untuk berada disana sepulang sekolah.
"Dut,"
"Dat Dut Dat Dut! Panggilnya Duta lah, orang-orang mikirnya nanti aku gendut!" Sahut Duta.
"Halah... Dah lama kamu disini?" Tanya Bayu.
"Enggak. BM kamu baru aku baca sepulang sekolah, jadi ya barusan." Jawab Duta sambil menyulut rokoknya.
"Mau ngomong apa sih?" Tanya Duta lagi.
"Tau kan?" Bayu memberi pertanyaan yang ganjil.
"Tau apa?"
"Tau lah, Agnia naksir berat sama kamu." Jawab Bayu kemudian.
"Oh ya?" Duta tampak setenga-setengah dalam menanggapi.
"Tanggepin yang serius. Agnia banyak ngarep ke kamu."
"Lho kok gitu? Terserah aku dong," Duta ketus dan masih setengah-setengah dalam memberi respon.
"Atau... Lebih baik nggak usah kontak Agnia lagi aja daripada cuman mainin dia," jawab Bayu lagi.
Kali ini Duta mematikan rokoknya.
"Haha. Tenang ajalah. Aku suka kok sama Agnia, ya emang belum cinta sih. Tapi mungkin bakalan." Duta menjawab dengan enteng.
Bayu tampak membisu dan tak mengeluarkan respon. Bayu berfikir lagi.
"Kalo gitu, jangan kecewain aku sebagai sahabatnya dan juga naksir sama Agnia dari SMP ya." Bayu mengosongkan pandangannya.
Tampak ingin berbicara lagi namun bingung apa yang akan ia katakan.
"Itu aja. Mungkin kamu nganggep sama sekali nggak penting. Tapi aku yakin bicaramu bisa aku pegang, Dut. Aku seneng kalo Agnia dapet apa yang dia pengen. Makasih waktunya," Bayu menepuk bahu Duta dua kali dan meninggalkannya.
Kini tersisa Duta dan rokoknya tadi. Duta memandangi langkah kaki Bayu yang menjauh. Duta merasakan mulutnya mulai hambar. Ia menyambar tasnya dan segera pergi meninggalkan tempat persemayamannya dengan rokoknya tadi.


Pagi ini tidak banyak yang berbeda bagi Bayu, namun berbeda bagi Agnia heboh dengan berita barunya. Tengah hari Agnia menelefon sahabatnya Bayu untuk sekedar mengatakan "iiiiih Bayuuu.. Aku pingin meluk kamu deh," belum sempat dijawab oleh Bayu, Agnia sudah mematikan panggilannya.
Bayu memang berencana meminjam buku paket ke rumah Agnia sore ini. Yang berbeda hanya ketika Bayu menemukan motor Duta di depan rumah Agnia. Dan juga beserta sang pemilik motor.

bersambung