Hari berlanjut, semua tampak biasa pada sisi Agnia. Tidak dengan Duta, ataupun Bayu. Duta mulai merasa dirinya tak lagi pantas berada di samping Agnia, karena Agnia terlalu menyayanginya. Duta memang jatuh hati dengan Agnia, namun itu bukan modal yang cukup untuk membuat Duta merasa pantas menjadi kekasih Agnia. Karena jatuh hati bukan berarti jatuh cinta, jatuh hati adalah karena ketika kita mengagumi seseorang entah dari sifat, perilaku, tutur katanya, dan gayanya.
Sedangkan Duta sekedar jatuh hati pada Agnia yang baik, ramah, dan patut di kagumi. Tapi Duta sama sekali tak pernah jatuh cinta pada Agnia.
Bayu setiap kali harus tertekan melihat sahabatnya Agnia, dan Duta yang bahkan tidak mencintai Agnia sepenuhnya selalu berduaan.
Agnia bahagia di pihaknya, mendapatkan apa yang ia inginkan, dan tetap memiliki sahabat sebaik Bayu.
Selasa. Agnia berada di rumah Bayu. Namun kali ini tak ditemani oleh Duta kekasihnya.
"Yu,"
"Hem?"
"Nggak kepikiran nyari cewe kamu? Mau jomblo terus?" tanya Agnia kemudian.
Bayu yang sedang menggambar sketsa pun berhenti dan memandang Agnia sejenak.
"Aku nggak jomblo."
"Terus apa? Single? Hahah. Cari cewe kek,"
"Udah ada," jawab Bayu.
"Siapa? Aku kenal nggak?" tanya Agnia penasaran.
"Tergantung," jawaban ini membuat Agnia semakin penasaran.
"Tergantung gimana kamu memahami dirimu sendiri, Ni." lanjut Bayu.
"Ha? Maksutnya?"
"Heheh enggak. Ada sih satu cewek. Sayangnya, dia suka sama cowo lain," ujar Bayu.
"Cuman suka? Kamu nggak berusaha buat dia ya? Nyerah???" celetuk Agnia.
"Kamu nggak ngerti sih. Beda, antara keharusan untuk berusaha sama merelakan," jawab Bayu lagi.
"Ah nggak ngerti maksutmu apa," sahut Agnia.
"Gini ya, Ni. Dalam hidup ini tu kita nggak selalu bisa mendapatkan apa yang kita pingin, ada saatnya keinginan kita terpenuhi. Ada saatnya juga ketika kita harus ngerelain keinginan kita untuk kepentingan lain. Sweet desire itu selalu ada dalam hidup orang masing-masing, tapi nggak semua sweet desire itu jadi nyata. Lagian, aku emang cinta sama dia, tapi kalo dia seneng aku pun juga." jawab Bayu panjang.
Agnia hanya menganggukkan kepala beberapa kali.
"Sini pinjem BB mu," ujar Agnia kemudian.
Sebuah pesan masuk. Dari Duta? Agnia membukanya karena tidak mungkin Bayu menutup-nutupi smsnya dengan Duta.
"Bay, kayanya aku lebih baik mundur. Maaf kalo aku ngecewain kamu ato Agnia nantinya. Tapi aku nggak pantes jadi cowonya Agnia, aku emang suka sama Agnia. Tapi nggak kalo jadi pacar. Jadi, kaya katamu waktu itu, aku mau pergi aja dari Agnia."
Agnia terkejut, hidupnya, semua keinginannya yang sempurna ada di depan mata seperti cat tembok yang luntur tersiram air.
"Ada sms nih, Bay. Aku pulang dulu ya,"
"Lhoh? Kok sebentar banget tumben? Nggak dijemput Duta?" Jawab Bayu.
"Aku nggak yakin dia mau jemput. Udah ah, pulang dulu ya. Balesin dulu tuh smsnya," Agnia setengah berkaca-kaca dan menyambar tasnya kemudian pergi.
Bayu bingung kemudian melihat sms yang masuk tadi. Dibacanya dan Bayu sangat terkejut. Seiring akan dikejarnya Agnia namun Agnia sudah lenyap dari rumahnya.
bersambung
Saturday, October 13, 2012
Sweet Desire III
Bayu hanya menduga. Ya. Mereka pasti jadian. Tapi itu hanya dugaan. Dugaan yang sangat Bayu yakini.
Akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik dan pulang. Bayu mencoba, mencoba untuk tidak memikirkan apa yang tadi ia lihat. Bayu berusaha menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Bayu hanya memejamkan mata untuk menghilangkan apa yang ia pikirkan dan...
Malam yang tidak begitu baik. Agnia harus terburu-buru dan menunggu kekasihnya Duta untuk menjemputnya. Agnia hanya ingin berkata semuanya akan baik-baik saja sama seperti kata Duta ketika Duta datang menjemput Agnia. Ya. Bayu mengalami sebuah insiden tepat sore tadi disaat Bayu mencoba menghilangkan apa yang Bayu lihat. Motornya lepas dari kendalinya saat Bayu berusaha menghindari sebuah becak didepannya dan menghantam mobil dari arah berlawanan.
Keadaan Bayu tidak baik, bahkan tidak sadar. Kehendak lain Tuhan yang masih memberinya hidup kedua dan selamat walaupun mengalami luka yang tidak main-main. Cukup mengejutkan Duta dan Agnia karena jelas Bayu mengalami kecelakaan di depan kompleks Agnia.
Agnia pulang dengan perasaan tidak baik. Sahabatnya Bayu belum sadar. Agnia hanya berulang-ulang mengingat perkataan Duta.
"Bayu kan kuat,"
Senyum mulai mengembang di bibir Agnia meskipun semalam ia memendam perasaan tertekan. Bayu sadar, sudah membaik dan bahkan pulih meski belum diperbolehkan pulang kerumah dan masih rawat inap di rumah sakit. Setidaknya itu sudah cukup mengembalikan mood Agnia sedikit demi sedikit.
Pulang sekolah ini, Agnia dan Duta akan menjenguk Bayu. Agnia berfikir kedatangannya akan memulihkan semangat sembuh Bayu.
"Belum sempat ngucapin ke kalian lho aku. Selamat ya, udah jadian kan. Ikut seneng, Agnia dapet apa yang di pingin-pinginin." Ujar Bayu dengan senyum hangatnya.
"Lah, gausah kamu pikirinlah. Sembuh aja belum becus kamu," celetuk Agnia.
"Ya enggak. Kan ikut seneng kalo sahabatku juga seneng," sahut Bayu.
Duta lebih banyak diam menelan perkataan Bayu. Duta hanya berfikir, disaat seperti ini Bayu juga bisa munafik.
Bayu rupanya membaik, jauh lebih baik dalam keadaan fisiknya meskipun jauh berbeda dengan apa yang hatinya rasakan.
bersambung...
Akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik dan pulang. Bayu mencoba, mencoba untuk tidak memikirkan apa yang tadi ia lihat. Bayu berusaha menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Bayu hanya memejamkan mata untuk menghilangkan apa yang ia pikirkan dan...
Malam yang tidak begitu baik. Agnia harus terburu-buru dan menunggu kekasihnya Duta untuk menjemputnya. Agnia hanya ingin berkata semuanya akan baik-baik saja sama seperti kata Duta ketika Duta datang menjemput Agnia. Ya. Bayu mengalami sebuah insiden tepat sore tadi disaat Bayu mencoba menghilangkan apa yang Bayu lihat. Motornya lepas dari kendalinya saat Bayu berusaha menghindari sebuah becak didepannya dan menghantam mobil dari arah berlawanan.
Keadaan Bayu tidak baik, bahkan tidak sadar. Kehendak lain Tuhan yang masih memberinya hidup kedua dan selamat walaupun mengalami luka yang tidak main-main. Cukup mengejutkan Duta dan Agnia karena jelas Bayu mengalami kecelakaan di depan kompleks Agnia.
Agnia pulang dengan perasaan tidak baik. Sahabatnya Bayu belum sadar. Agnia hanya berulang-ulang mengingat perkataan Duta.
"Bayu kan kuat,"
Senyum mulai mengembang di bibir Agnia meskipun semalam ia memendam perasaan tertekan. Bayu sadar, sudah membaik dan bahkan pulih meski belum diperbolehkan pulang kerumah dan masih rawat inap di rumah sakit. Setidaknya itu sudah cukup mengembalikan mood Agnia sedikit demi sedikit.
Pulang sekolah ini, Agnia dan Duta akan menjenguk Bayu. Agnia berfikir kedatangannya akan memulihkan semangat sembuh Bayu.
"Belum sempat ngucapin ke kalian lho aku. Selamat ya, udah jadian kan. Ikut seneng, Agnia dapet apa yang di pingin-pinginin." Ujar Bayu dengan senyum hangatnya.
"Lah, gausah kamu pikirinlah. Sembuh aja belum becus kamu," celetuk Agnia.
"Ya enggak. Kan ikut seneng kalo sahabatku juga seneng," sahut Bayu.
Duta lebih banyak diam menelan perkataan Bayu. Duta hanya berfikir, disaat seperti ini Bayu juga bisa munafik.
Bayu rupanya membaik, jauh lebih baik dalam keadaan fisiknya meskipun jauh berbeda dengan apa yang hatinya rasakan.
bersambung...
Sweet Desire Part II
Siang itu, sepulang sekolah. Tak banyak yang berada di sebelah gedung basket sekolah Bayu. Tempat dimana murid-murid lelaki merokok. Dari jauh terlihat hanya ada seorang Duta duduk disebuah bangku dengan sebatang rokoknya. Ya. Bayu memang memintanya untuk berada disana sepulang sekolah.
"Dut,"
"Dat Dut Dat Dut! Panggilnya Duta lah, orang-orang mikirnya nanti aku gendut!" Sahut Duta.
"Halah... Dah lama kamu disini?" Tanya Bayu.
"Enggak. BM kamu baru aku baca sepulang sekolah, jadi ya barusan." Jawab Duta sambil menyulut rokoknya.
"Mau ngomong apa sih?" Tanya Duta lagi.
"Tau kan?" Bayu memberi pertanyaan yang ganjil.
"Tau apa?"
"Tau lah, Agnia naksir berat sama kamu." Jawab Bayu kemudian.
"Oh ya?" Duta tampak setenga-setengah dalam menanggapi.
"Tanggepin yang serius. Agnia banyak ngarep ke kamu."
"Lho kok gitu? Terserah aku dong," Duta ketus dan masih setengah-setengah dalam memberi respon.
"Atau... Lebih baik nggak usah kontak Agnia lagi aja daripada cuman mainin dia," jawab Bayu lagi.
Kali ini Duta mematikan rokoknya.
"Haha. Tenang ajalah. Aku suka kok sama Agnia, ya emang belum cinta sih. Tapi mungkin bakalan." Duta menjawab dengan enteng.
Bayu tampak membisu dan tak mengeluarkan respon. Bayu berfikir lagi.
"Kalo gitu, jangan kecewain aku sebagai sahabatnya dan juga naksir sama Agnia dari SMP ya." Bayu mengosongkan pandangannya.
Tampak ingin berbicara lagi namun bingung apa yang akan ia katakan.
"Itu aja. Mungkin kamu nganggep sama sekali nggak penting. Tapi aku yakin bicaramu bisa aku pegang, Dut. Aku seneng kalo Agnia dapet apa yang dia pengen. Makasih waktunya," Bayu menepuk bahu Duta dua kali dan meninggalkannya.
Kini tersisa Duta dan rokoknya tadi. Duta memandangi langkah kaki Bayu yang menjauh. Duta merasakan mulutnya mulai hambar. Ia menyambar tasnya dan segera pergi meninggalkan tempat persemayamannya dengan rokoknya tadi.
Pagi ini tidak banyak yang berbeda bagi Bayu, namun berbeda bagi Agnia heboh dengan berita barunya. Tengah hari Agnia menelefon sahabatnya Bayu untuk sekedar mengatakan "iiiiih Bayuuu.. Aku pingin meluk kamu deh," belum sempat dijawab oleh Bayu, Agnia sudah mematikan panggilannya.
Bayu memang berencana meminjam buku paket ke rumah Agnia sore ini. Yang berbeda hanya ketika Bayu menemukan motor Duta di depan rumah Agnia. Dan juga beserta sang pemilik motor.
bersambung
"Dut,"
"Dat Dut Dat Dut! Panggilnya Duta lah, orang-orang mikirnya nanti aku gendut!" Sahut Duta.
"Halah... Dah lama kamu disini?" Tanya Bayu.
"Enggak. BM kamu baru aku baca sepulang sekolah, jadi ya barusan." Jawab Duta sambil menyulut rokoknya.
"Mau ngomong apa sih?" Tanya Duta lagi.
"Tau kan?" Bayu memberi pertanyaan yang ganjil.
"Tau apa?"
"Tau lah, Agnia naksir berat sama kamu." Jawab Bayu kemudian.
"Oh ya?" Duta tampak setenga-setengah dalam menanggapi.
"Tanggepin yang serius. Agnia banyak ngarep ke kamu."
"Lho kok gitu? Terserah aku dong," Duta ketus dan masih setengah-setengah dalam memberi respon.
"Atau... Lebih baik nggak usah kontak Agnia lagi aja daripada cuman mainin dia," jawab Bayu lagi.
Kali ini Duta mematikan rokoknya.
"Haha. Tenang ajalah. Aku suka kok sama Agnia, ya emang belum cinta sih. Tapi mungkin bakalan." Duta menjawab dengan enteng.
Bayu tampak membisu dan tak mengeluarkan respon. Bayu berfikir lagi.
"Kalo gitu, jangan kecewain aku sebagai sahabatnya dan juga naksir sama Agnia dari SMP ya." Bayu mengosongkan pandangannya.
Tampak ingin berbicara lagi namun bingung apa yang akan ia katakan.
"Itu aja. Mungkin kamu nganggep sama sekali nggak penting. Tapi aku yakin bicaramu bisa aku pegang, Dut. Aku seneng kalo Agnia dapet apa yang dia pengen. Makasih waktunya," Bayu menepuk bahu Duta dua kali dan meninggalkannya.
Kini tersisa Duta dan rokoknya tadi. Duta memandangi langkah kaki Bayu yang menjauh. Duta merasakan mulutnya mulai hambar. Ia menyambar tasnya dan segera pergi meninggalkan tempat persemayamannya dengan rokoknya tadi.
Pagi ini tidak banyak yang berbeda bagi Bayu, namun berbeda bagi Agnia heboh dengan berita barunya. Tengah hari Agnia menelefon sahabatnya Bayu untuk sekedar mengatakan "iiiiih Bayuuu.. Aku pingin meluk kamu deh," belum sempat dijawab oleh Bayu, Agnia sudah mematikan panggilannya.
Bayu memang berencana meminjam buku paket ke rumah Agnia sore ini. Yang berbeda hanya ketika Bayu menemukan motor Duta di depan rumah Agnia. Dan juga beserta sang pemilik motor.
bersambung
Sweet Desire
"Agnia?" Panggil seorang anak lelaki yang sedari mungkin menguntitnya.
Rambutnya yang berantakan kini terkibas mengikuti gerak lehernya yang mencari asal-usul suara yang memanggil namanya. Rupanya ia menemukan sahabatnya yang berdiri sekitar 2 meter dibelakangnya dengan senyum hangat yang nyaris setiap detik membuatnya tertawa.
"Kenapa Yu?"
"Tega, masa iya aku ditinggal di perpus kamunya keluar nggak bilang-bilang." Jawab Bayu.
"Haelah, segitu penting aku ini dimatamu sampe nggak mau ditinggal cuman 10menit aja," celetuk Agnia dengan segenap percaya dirinya.
"Ya pentinglah."
"Ha?" Agnia sedikit bingung.
"Ya penting soalnya siapa yang tak gangguin nanti kalo bukan kamu!"
Sebenarnya Agnia sudah sedikit GR, tapi Agnia juga sudah mengira. Pasti bualan Bayu belaka kalau andai kata Bayu mengatakan bahwa Agnia penting dalam hidupnya. Agnia memang dekat dengan Bayu. Belum lama memang. Mereka dekat sejak masuk SMA ini. Sebenarnya dahulu mereka juga satu SMP, tapi mereka tidak saling mengenal karena selalu berbeda kelas.
Bangku SMA lah yang akhirnya mempertemukan mereka dalam sebuah kelas tahun lalu. Bayu, yang adalah seorang joker bersahabat dengan Agnia, gadis yang tak pernah bisa serius. Kelas bahkan tak akan menjadi ramai bila tanpa mereka.
Seorang seperti Bayu juga rupanya tak bisa menyangkal lagi kalau dia tengah jatuh hati pada sahabatnya tersebut. Sayangnya, Bayu memang tak pernah ingin membahasnya. Karena Bayu tahu, selama ini, laki-laki yang selalu dibanggakan Agnia hanyalah Duta, Duta dan Duta. Di mata Agnia, Duta memiliki tempat yang sangat spesial. Duta memberikan sejuta harapan dan kata-kata yang memotivasi kehidupan Agnia secara penuh, meskipun Duta tidak pernah tahu bahwa Agnia naksir berat padanya.
Memang selama ini Agnia hanya dapat memendam rasa atau bahkan ingin membuangnya ketika mengetahui Duta telah memiliki kekasih. Namun bak cahaya bulan yang selalu datang lagi, Duta sekarang single dan itu seperti cahaya baru bagi Agnia. Sekarang Agnia jadi banyak berharap. Meskipun tak pernah ada kemajuan yang signifikan dari pihak Duta sendiri, namun Agnia tetap saja berharap dan berharap.
Keadaan ini yang membuat Bayu sedikit iba dan setengah tidak rela. Namun Bayu terus menanamkan pedoman bahwa "Tidak selamanya kita mendapatkan apa yang kita inginkan" dan "Bukan kah kebahagiaan itu ketika kita melihat seorang yang kita cintai juga bahagia?".
Bayu mencari cara. Banyak cara. Mencari tahu tipe gadis yang diinginkan Duta, mencari tahu siapa gebetan Duta, sampai dengan mencoba menjadi makcomblang untuk Agnia. Namun rupanya tidak berhasil.
Sampai akhirnya Bayu menyerah. Bayu mencoba ide terakhirnya. Berbicara empat mata dengan Duta.
bersambung...
bersambung...
Subscribe to:
Comments (Atom)