Saturday, October 13, 2012

Sweet Desire

"Agnia?" Panggil seorang anak lelaki yang sedari mungkin menguntitnya.
Rambutnya yang berantakan kini terkibas mengikuti gerak lehernya yang mencari asal-usul suara yang memanggil namanya. Rupanya ia menemukan sahabatnya yang berdiri sekitar 2 meter dibelakangnya dengan senyum hangat yang nyaris setiap detik membuatnya tertawa.
"Kenapa Yu?"
"Tega, masa iya aku ditinggal di perpus kamunya keluar nggak bilang-bilang." Jawab Bayu.
"Haelah, segitu penting aku ini dimatamu sampe nggak mau ditinggal cuman 10menit aja," celetuk Agnia dengan segenap percaya dirinya.
"Ya pentinglah."
"Ha?" Agnia sedikit bingung.
"Ya penting soalnya siapa yang tak gangguin nanti kalo bukan kamu!"
Sebenarnya Agnia sudah sedikit GR, tapi Agnia juga sudah mengira. Pasti bualan Bayu belaka kalau andai kata Bayu mengatakan bahwa Agnia penting dalam hidupnya. Agnia memang dekat dengan Bayu. Belum lama memang. Mereka dekat sejak masuk SMA ini. Sebenarnya dahulu mereka juga satu SMP, tapi mereka tidak saling mengenal karena selalu berbeda kelas.
Bangku SMA lah yang akhirnya mempertemukan mereka dalam sebuah kelas tahun lalu. Bayu, yang adalah seorang joker bersahabat dengan Agnia, gadis yang tak pernah bisa serius. Kelas bahkan tak akan menjadi ramai bila tanpa mereka.
Seorang seperti Bayu juga rupanya tak bisa menyangkal lagi kalau dia tengah jatuh hati pada sahabatnya tersebut. Sayangnya, Bayu memang tak pernah ingin membahasnya. Karena Bayu tahu, selama ini, laki-laki yang selalu dibanggakan Agnia hanyalah Duta, Duta dan Duta. Di mata Agnia, Duta memiliki tempat yang sangat spesial. Duta memberikan sejuta harapan dan kata-kata yang memotivasi kehidupan Agnia secara penuh, meskipun Duta tidak pernah tahu bahwa Agnia naksir berat padanya.
Memang selama ini Agnia hanya dapat memendam rasa atau bahkan ingin membuangnya ketika mengetahui Duta telah memiliki kekasih. Namun bak cahaya bulan yang selalu datang lagi, Duta sekarang single dan itu seperti cahaya baru bagi Agnia. Sekarang Agnia jadi banyak berharap. Meskipun tak pernah ada kemajuan yang signifikan dari pihak Duta sendiri, namun Agnia tetap saja berharap dan berharap.
Keadaan ini yang membuat Bayu sedikit iba dan setengah tidak rela. Namun Bayu terus menanamkan pedoman bahwa "Tidak selamanya kita mendapatkan apa yang kita inginkan" dan "Bukan kah kebahagiaan itu ketika kita melihat seorang yang kita cintai juga bahagia?".
Bayu mencari cara. Banyak cara. Mencari tahu tipe gadis yang diinginkan Duta, mencari tahu siapa gebetan Duta, sampai dengan mencoba menjadi makcomblang untuk Agnia. Namun rupanya tidak berhasil.
Sampai akhirnya Bayu menyerah. Bayu mencoba ide terakhirnya. Berbicara empat mata dengan Duta.

bersambung...

No comments:

Post a Comment